Judul: Ekonomi Pembangunan
Penulis : Drs. Subandi, M.M.
Penerbit : ALFABETA
Tebal : 230 halaman
Pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam rangka mencapai kemakmuran, yang ditunjukkan dengan peningkatan pendapatan perkapita dalam jangka panjang. Dalam proses pembangunan apapun bentuknya pasti menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu, diperlukan indikator-indikator yang dapat dijadikan tolak ukur terjadinya pembangunan.
Buku ini merupakan kumpulan bahan ajar yang diperuntukkan bagi mahasiswa STIA-LAN dan mahasiswa jurusan ekonomi. Buku ini juga menuntun pembaca untuk mengetahui indikator keberhasilan pembangunan. Untuk memperdalam pemahaman pembaca tentang pertumbuhan dan pembangaunan maka dibahaslah teori pertumbuhan dan pembanguan ekonomi. Berbagai masalah dalam ekonomi pembangunan juga dibahas dalam buku ini yaitu distribusi pendapatan dan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan, kependudukan dan tenaga kerja.
Isi materi dari buku ini terdiri dari 16 bab, yaitu: Bab I Pentingnya mempelajari ekonomi pembangunan; Bab II Pengertian, makna dan hakekat pembangunan; Bab III Paradigma ekonomi pembangunan; Bab IV Indikator keberhasilan pembangunan; Bab V Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi; Bab VI Distribusi pendapatan dan kemiskinan; Bab VII Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan; Bab VIII Kependudukan dan tenaga kerja; Bab IX Pembangunan ekonomi di Indonesia; Bab X Pembangunan ekonomi daerah; Bab XI Pembangunan pertanian; Bab XII Pembangunan industri; Bab XIII Pembangunan ekonomi kawasan ASEAN; Bab XIV Utang luar negeri dan pembiayaan pembangunan; Bab XV Pembangunan ekonomi global; Bab XVI Makna kerjasama ekonomi Asia Pasifik bagi Indonesia.
A. Pentingnya Mempelajari Ekonomi Pembangunan
Negara kita termasuk negara berkembang yang ekonominya masih belum maju jadi sangat memerlukan ilmu ekonomi pembangunan selain ekonomi mikro, makro, moneter dan ilmu lainnya. Perbedaan taraf hidup suatu bangsa semakin terasa pada saat bangsa itu mulai membutuhkan aneka rupa barang bagi kehidupannya. Khususnya yang menyangkut pangan, sandang, papan/ tempat tinggal, dan lain-lain. Untuk itulah sejak zaman dahulu umat manusia sudah berusaha memanfaatkan sumber daya alam yang ada di wilayahnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya para ahli ekonomi yang mempelajari pentingnya ilmu ekonomi pembangunan bagi suatu negara, terutama bagi negara-negara berkembang atau terbelakang karena terlalu lama dijajah.
Tujuan dari ilmu ekonomi pembangunan adalah untuk menciptakan upaya perbaikan taraf kehidupan yang lebih luas serta lebih cepat bagi kelompok yang terus tercekam kemiskinan, kelaparan, serta buta huruf. Sedangkan didalam perkuliahan bertujuan untuk membantu para mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai sejumlah pertanyaan kritis yang berkenaan dengan perekonomian dinegara-negara.
B. Pengertian, Makna, dan Hakikat Pembangunan
Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir sedangkan pembangunan ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu Negara untuk mengembangkan aktifitas ekonomi utnuk meningkatkan taraf hidup dalam jangka panjang. Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan dalam perubahan struktur ekonomi, dari pertanian ke indudstri atau jasa, perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan.
Hakikat pembangunan mengandung makna bahwa pembangunan nasional mengejar keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah. Pembangunan nasional yang berkesinambungan diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, sehingga senantiasa mampu mewujudkan ketentraman dan kesejahteraan hidup lahir batin.
Pembangunan ekonomi merupakan proses yang terjadi terus menerus sebagai usaha untuk menaikkan pendapatan per-kapita dalam jangka panjang yang disertai perbaikan sistem kelembagaan yang ditinjau dari bidang organisasi dan bidang regulasi, sedangkan pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk, atau apakah terjadi perubahan struktur ekonomi atau tidak.
C. Paradigma Ekonomi Pembangunan
Pembangunan mengandung pemahaman akan adanya penalaran dan pandangan yang logis, dinamis dan optimistis. Sejak tanggal 18 Agustus 1945, bangsa Indonesia telah sepakat bulat untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara sebagai perwujudan falsafah hidup bangsa (weltanschauung) dan sekaligus ideologi nasional. Sejak negara republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 hingga kapanpun maka kesetiaan (loyalitas) terhadap ideologi Pancasila dituntut dalam bentuk sikap, tingkah laku dan perbuatan yang nyata dan terukur. Inilah sesungguhnya wujud tanggung jawab seorang warga negara sebagai konsekuensi logis yang bangga dan mencintai ideologi negaranya (Pancasila) yang benar-benar telah menghayati, mengamalkan dan mengamankannya dari derasnya sistem-sistem ideologi bangsa/ negara-negara modern dewasa ini.
Pancasila dalam paradigma pembangunan sekarang dan dimasa-masa yang akan datang, bukanlah lamunan kosong, akan tetapi menjadi suatu kebutuhan sebagai pendorong semangat pentingnya paradigma arah pembangunan yang baik dan benar di segala bidang kehidupan. Jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia, akan mewarnai jiwa pembangunan nasional baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan maupun dalam evaluasinya.
D. Indikator Keberhasilan Pembangunan
Indikator tingkat ekonomi akan menunjukkan keberhasilan pembangunan suatu masyarakat, menurut Kuncoro (2000) ada dua macam indikator: indikator ekonomi yang meliputi Gross National Produc (GNP) perkapita denga laju pertumbuhan ekonomi, Gross Domestic Produc (GDB) perkapita dengan Purchasing Power Parity (PPP) dan indikator non-ekonomi yang terdiri Human Development Index (HDI) dan Physichal Quality Life Index (PQLI).
Produk National Bruto (GNP) atas dasar harga pasar, minus penyusutan yang bertujuan untuk memperbesar kekuasaan dan pengaruh Negara tersebut keluar negeri dab kecenderungan ini dapat berakhir dengan penaklukan atas negara-negara lain, menciptakan suatu “welfare state”, yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada penduduknya denga cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem perpajakan yang progresif. Dalam sistem perpajakan seperti ini, maka makin tinggi pendapatan seseorang semakin besar jumlah pajak yang harus dibayar.
Indikator non ekonomi keberhasilan pembangunan adalah Physical Quality Of Life Index (PQLI)atau indek mutu hidup adalah suatu indek komposit yang terdiri atas indikator, kesehatan, gizi, dan pendidikan yang dapat dilihat dari tingkat kematian bayi dan harapan hidup pada umur satu tahun serta tingkat melek huruf orang dewasa. Human Development Index (HDI)mencoba me-rangking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia yang terendah) hingga 1 (tingkat pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan tiga tujuan; Usia panjang yang idukur dengan tingkat harapan hidup, Pengetahuan yang diukur dengan rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang dapat membaca dan rata-rata ntahun sekolah serta penghasilan yang diukur dengan pendapatan perkapita riil yang telah disesuaikan, yaitu disesuaikan menurut daya beli mata uang masing-masing negara dan asumsi menurunnya utilitas marginal dengan cepat.
E. Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi
Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahapan yang berurutan yang dimulai dari masa berburuh, masa berternak, masa bercocok tanam, masa perdagangan, dan yang terakhir adalah masa perindustrian. Karl Marx dalam bukunya das kapital membagi evolusi perkembangan masyarakat menjadi tiga tahapan yang dimulai dari feodalisme, kapitalismedan kemudian yang terakhir adalah sosialisme.Perkembangan masyarakat ini akan sejalan dengan proses pembangunan yang dilaksanakan. Teori yang dikemukakan Karl Marx mendasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi dua golongan, yaitu: masyarakat pemilik tanah dan masyarakat yang bukan pemilik tanah, masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal.
Rostow menjelaskan teori tahapan pertumbuhan dimulai dari masyarakat tradisional, prasyarat lepas landas, tahap lepas landas, tahapan gerak menuju kematangan, tahap konsumsi masa tinggi. Profesor W.W. Rostow mengajukan teoriya pertama kali dalam Economic Journal dan kemudian dikembangkn dalam bukuya The Stages of Economic Growth. Menurut Rostow, proses pertumbuhan ekonomi dapat dibedkan dalam lima tahap dan semua negara didunia ini akan melalui salah satu dari tahap tersebut. kelima tahap pertumbuhan itu adalah. Masyrakat tradisional merupakan masyarakat yang dalam kehidupannya masih menggunakan cara-cara yang sangat sederhana dan telah berlaku secara turun-temurun, baik dalam berproduksi maupun dalam tata cara/adat istiadat. Tingkat produktivitas mereka masih sangat terbatas karena sebagian besar sumber daya masyarakat hanya digunakan untuk kegitan dalam sektor pertanian. Struktur sosial bersifr hierarkis, maksutnya kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak akan berbeda dengan ayahnya, kakeknya, dan kakek moyangnya. Dalam masyarakat ini kecil sekali kemungkinan misalnya, bagi anak seorang petani biasa untuk menjadi tuan tanah atau kelas masyarakat lainya yang lebih tinggi dari petani. Prasyarat Lepas Landas.
F. Distribusi Pendapatan Dan Kemiskinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat meliputi akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi dengan karakterisitik pertumbuhan ekonomi modern adalah kenaikan output nasional secara terus menerus merupakan perwujudan dari pertumbuhan ekonmi dan kemampuan untuk menyediakan berbagi macam barang ekonomi merupakan tanda kematangan ekonomi; kemajuan teknologi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, namun belum merupakan syarat yang cukup. Maka untuk merealisasikan potensi pertumbuhan yang terkandung dalam teknologi baru., perlu melakukan penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideology. Maka inovasi teknologi harus disertai inovasi sosial, sebab bila tidak akan seperti lampu tanpa aliran, artinya untuk terwujudnya potensi harus ada input-nya.
G. Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan
Pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh akumulasi modal, ttermasuk semua investasi yang berwujud tanah (lahan), pertanian fiscal, dan sumber daya manusia (human resources), disamping pertumbuhan pendudukan dan kemajaun teknologi. Berlangsungnya tingakt pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka kelompok negara-negara HPAEs mampu menurunkan tingkat ketimpangan pendapatan dan kemiskinan.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dinegara HPAEs, maka peretumbuhan dan tranformasi dalam bidang pendidikan juga berlangsung sangat cepat. Transformasi pendidikan ini dapat dilihat dari adanya peningkatan baiksegi kualitas dan segi kuantitas, bahkan pada saat ini kemampuan kognitif dari lulusan sekolah menengah di HPAEs sudah sebanding dengan lulsan sekolah menengah dinegara maju.
H. Kependudukan dan Tenaga Kerja
Struktur penduduk di negara sedang berkembang menghadapi permasalahan yang lebih rumit dibandingkan dengan sebelum perang dunia kedua. Tingakt pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja, telah menimbulkan permaslaahan bagi negara sedang berkembang dalam upaya meningkatakan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan yang semakin pesat di negara-negara berkembang menyebabkan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kondisi ini dipandang sebagai hal yang menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, terjadinya migrasi internal dianggap sebagai suatu proses yang alamiah ketika surplus tenaga kerja secara perlahan ditarik dari sektor pedesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi pertumbuhan industry di perkotaan.
Karakteristik migrant dibedakan menjadi tiga; karaktersitk demografi. Para migran di NSB pada umumnya berusia 15-24 tahun. Karakteristik pendidikan,tampaknya ada korelasi positif antara kesempatan memperoleh pendidikan dengan migrasi. Karaktersitik ekonomi, pada umunya presentase migrasi yang terbanyak adalah eklompok penduduk miskin, karena tidak memiliki tanah dan juga tidak mempunyai keterampilan.
5 bentuk pengangguran menurut Edwards (1974) yaitu pengangguran terbuka, setengah menganggur, tampak bekerja tetapi tidak bekerja penuh, tenaga kerja lemah, dan tenaga kerja yang tidak produktif.
I. Pembangunan Ekonomi Di Indonesia
Bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dari sejak zaman kemerdekaan sampai saat sekarang ini mendapat hambatan sosial politik, akibat dari pemerintahan yang belum stabil. Disamping itu pada tahun 1952-1959 sistem pemerintahan kita menganut sistem pemerintahan parlementer karena kondisi politik belum stabil maka pemerintah sering dijatuhkan oleh parlemen, shingga program-program pembangunan tidak dapat dilaksanakn secara berkesinambungan. Masalah lain yang dihadapi adalah naiknya biaya hidup masyarakat, tidak terkendalinya kegiatan ekspor-impor, terjadi defisit APBN, disusul ketidakstabilan moneter dan sebagainya.
Setelah tahun 1967 dan seterusnya kondisi mulai berubah, dimana berbagai permasalahan mulai diusahakan untuk diselesaikan dengan program rehabilitas dengan skala prioritas, samapi dengan dilaksanakan Repelita I samapi Repelita VI, serta konsep menuju tinggal landas. Namun lagi-lagi bangsa Indonesia menghadapi persoalan dalam melasksanakn pembangunan ekonominya dengan terjainya krisis moneter, menjadi krisis ekonomi , kemudian menjadi krisis politik dan krisis social yang sampai sekarang belum dapat dilaksanakan. Mislanya pada periode 1945-1950 perekonomian Indonesia menghadapai permasalahan ekonomi pascakolonial dan sebagai akibat perang yang diperburuk oleh msalah social politik yang timbul sebagai akibat permerintahan yang belum stabil.
J. Pembangunan Ekonomi Daerah
Secara tradisional pembangunan memiliki arti peningkatan yang terus menerus pada Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto suatu negara. Untuk daerah, makna pembangunan yang tradisional difokuskan pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto suatu provinsi, kabupaten, atau kota. Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk mencipatakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses, yaitu proses yang mencakup pembentukan institusi - institusi baru, pembangunan indistri - industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru.
K. Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan sosial. Implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan status dan kesejahteraan petani semata, tetapi sekaligus juga dimaksudkan untuk mengembangkan potensi sumberdaya manusia baik secara ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan (improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan (change).
L. Pembangunan Industri
Peran sektor industri dalam pembangunan adalah untuk memberikan nilai tambah factor-faktor produksi. Pada dasarnya peranan sektor industri dalam pembangunan ini dikembangkan menjadi strategi indutrialisasi yang meliputi strategi industry (SISI) atau import substitutiondan strategi industry promosi ekspor (SIPE) export promotion.
Sektor industri merupakan sektor utama dalam perekonomian Indonesia setelah sektor pertanian. Sector ini sebagi penymbang dalan pembetukan PDB Indonesia dari waktu-kewaktu mengalami peningkatan samapi pada tahun 1999. Bahkan sejak tahuhn 1991 sektor ini mampu menjadi sektor utama dengan mengalahkan peran sektor pertanian dalam menyumbang pembentukan PDB. Sebagai gambaran pada 1999 peran sektor industry pengolahan mencapai lebih dari seperempat komponen dalam pembentukan PDB. Sementara sektor pertanian hanya mampu menyumbang 19,4%. Untuk pertanian angak inipun lebih rendah dari sumbangan dari industri non migas. Di Indonesia, industri dibagi menjadi empat kelompok, yaitu indutri besar, industry sedang, industry kecil, dan industry rumah tangga.