Nama: Hanifah Tri Sediaswati
Kelas: 1EA30
NPM: 13213897
Jurusan: Manajemen S1
Tugas 2
Ilmu Budaya Dasar
Bab III. Konsep IBD dalam kesusastraan
1.
Hubungan sastra dan seni
dengan IBD
-
Pengertian Sastra
Sastra
adalah Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra)
merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti
"teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata
dasar śās-yang berarti "instruksi" atau "ajaran".
Dalam bahasa Indonesia kata
ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah
jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
-
Pengertian Seni
Seni
adalah Seni
berasal dari kata sani (Sanskerta) yang berarti pemujaan, persembahan, dan
pelayanan. Kata tersebut berkaitan erat dengan upacara keagamaan yang disebut
kesenian. Menurut
Padmapusphita, kata seni
berasal dari bahasa Belanda genie dalam bahasa Latin disebut genius, artinya kemampuan luar biasa yang
dibawa sejak lahir.
-
Sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu
budaya dasar, materi – materi ilmu budaya dasar berkaitan dengan sastra dan
seni. Budaya Indonesia sangat menunjukkan adanya sastra dan seni didalamnya.
Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut:
Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut:
1. Kenyataan
bahwa bangsa indonesia berdiri atas suku bangsa dengan segala keanekaragaman
budaya yg tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas
dari ikatan2 primordial, kesukaan, dan kedaerahan
2. Proses pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya.
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan mausia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yg telah diciptakannya.
2.
Prosa
-
Pengertian Prosa
Prosa adalah
karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima, irama,
dan kemerduan bunyi seperti puisi.
Bahasa prosa seperti bahasa sehari-hari.
-
Jenis-jenis prosa
1. Prosa
Deskripsi
Prosa
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca
seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan.
2. Prosa
Narasi
Prosa
Narasi adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan
tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan.
3. Prosa
Eksposisi
Prosa
Eksposisi adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi
dengan sejelas-jelasnya.
4. Prosa
Argumentasi
Prosa
Argumentasi adalah karangan yang berisi ide atau gagasan yang dilengkapi
data-data kesaksian bertujuan mempengaruhi pembaca untuk menyatakan
persetujuannya.
5. Prosa
Persuasi
Prosa
Persuasi adalah karangan yang disampaikan dengan cara-cara tertentu, bersifat
ringkas, menarik pembaca, hingga pembaca terhanyut oleh siratannya.
-
Contoh Prosa
Monyet dan Ayam
Pada
suatu zaman, ada seekor ayam yang bersahabat dengan seekor monyet. Si Yamyam
dan si Monmon namanya. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena
kelakuan si Monmon yang suka semena-mena dengan binatang lain. Hingga, pada
suatu petang si Monmon mengajak Yamyam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah
petang, si Monmon mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Yamyam dan mulai
mencabuti bulunya. Yamyam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. “Lepaskan aku,
mengapa kau ingin memakan sahabatmu?” teriak si Yamyam. Akhirnya Yamyam, dapat
meloloskan diri. Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu
adalah tempat kediaman siKepiting. si Kepiting merupakan teman Yamyam dari dulu
dan selalu baik padanya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang rumah
si Kepiting.
Di
sana ia disambut dengan gembira. Lalu Yamyam menceritakan semua kejadian yang
dialaminya, termasuk penghianatan si Monmon. Mendengar hal itu akhirnya si
Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Monmon. Ia berkata, “Mari kita beri
pelajaran si Monmon yang tidak tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia menyusun
siasat untuk memperdayai si Monmon. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang
si Monmon untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan.
Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah
liat. Kemudian si Yamyam mengundang si Monmon untuk berlayar ke pulau seberang.
Dengan rakusnya si Monmon segera menyetujui ajakan itu karena ia berpikir akan
mendapatkan banyak makanan dan buah-buahan di pulau seberang. Beberapa hari
berselang, mulailah perjalanan mereka.
Ketika perahu sampai di tengah laut, Yamyam
dan kepiting berpantun. Si Yamyam berkokok “Aku lubangi ho!!!” si Kepiting
menjawab “Tunggu sampai dalam sekali!!” Setiap kali berkata begitu maka si
Yamyam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan
tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut, sedangkan Si
Yamyam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Monmon yang berteriak
minta tolong karena tidak bisa berenang. Akhirnya ia pun tenggelam bersama
perahu tersebut.
3. Fiksi
Dahulu
kala di Negeri Antah Berantah, tinggallah seorang ratu yang cantik jelita. Sang
ratu memiliki kebiasaan aneh, yaitu mengkoleksi aneka macam cermin dengan
berbagai macam ukuran. Cermin-cermin itu digantungkan di dinding kamar Sang
ratu sehingga dinding kamarnya penuh dengan cermin. Sang ratu sangat suka
mematut diri di depan cermin-cermin itu dan mengagumi kecantikan dirinya.
Hampir sepanjang hari ia melakukannya dan tak bosan-bosannya ia
berlenggak-lenggok di depan cermin-cerminnya.
Pada
suatu hari, saat ratu sedang menyisir rambutnya, tiba-tiba cermin yang
dipegangnya terjatuh dan pecah. Sang ratu marah besar. Ia memerintahkan
pengawalnya untuk membelikannya cermin baru.
”
Maaf, Yang Mulia. Tapi bukankah Paduka sudah memiliki banyak sekali cermin.
Untuk apa Paduka membeli cermin lagi?” Tanya pengawalnya.
”
Kurang ajar. Berani sekali kau menentang perintahku. Cepat pergi dan bawakan
aku sebuah cermin untuk mengganti cerminku yang pecah. Atau kau ingin aku
hukum, haa?”
Pengawal
itu pun bergegas pergi ke toko cermin. Namun sayangnya, kata si pemilik toko
tak ada lagi cermin yang dapat dijualnya.
”
Semua cerminku sudah habis dibeli oleh ratu. Jadi tak ada lagi yang dapat ku
berikan padamu, ” kata pemilik toko.
Dengan
gelisah si pengawal berjalan menyusuri pasar untuk mencari cermin yang diminta
oleh Sang ratu. Namun setiap toko yang didatanginya selalu memberikan jawaban
yang sama. Dengan putus asa, pengawal itu kembali ke istana. Namun di tengah
perjalanan ia bertemu dengan seorang pemuda yang tertidur di bawah pohon. Di
samping pemuda itu tersendar sebuah cermin besar yang ditutup dengan selembar
kain. Pengawal itu lalu menghampiri pemuda tersebut dan memintanya untuk
menjual cermin itu padanya. Pemuda itu ragu.
”
Apa Tuan tahu, cermin ini bukan cermin biasa. Aku khawatir jika nantinya justru
akan mencelakakan diri Tuan sendiri, ” kata pemuda itu.
”
Tapi jika aku kembali tanpa membawa cermin, Yang Mulia Ratu pasti akan
menghukumku. Jadi tolonglah aku, ” pinta pengawal ketakutan.
Pemuda
itu diam sejenak.
”
Baiklah, Tuan. Aku akan menolong anda. Aku akan menghadap Ratu dan akan
menyerahkan cermin ini pada Yang Mulia Ratu, ” kata pemuda itu.
Akhirnya,
mereka berdua menghadap Sang ratu. Ratu senang karena keinginannya untuk
memperoleh cermin baru terwujud. Ia tak sabar untuk segera mematut diri di
depan cermin barunya itu.
”
Maafkan hamba, Yang Mulia. Sebelum Yang Mulia membelinya, hamba hanya ingin
mengingatkan jika cermin ini bukanlah cermin biasa. Cermin ini akan menunjukkan
wajah asli dari orang yang bercermin padanya. Jadi hambamohon sebaiknya Yang
Mulia mempertimbangkan lagi keinginan Paduka itu, ” kata si pemuda.
”
Lancang! Berani sekali kau berkata seperti itu. Apa kau mau aku hukum, haa? ”
Kata ratu murka. Pemuda itu ketakutan.
”
Maaf, Yang mulia. Hamba hanya ingin mengingatkan Paduka. Tapi jika memang
Paduka menginginkan cermin ini, dengan senang hati hamba akan
mempersembahkannya untuk Paduka, ” kata si pemuda sambil menyerahkan cermin
itu.
Ratu
segera menerimanya dengan senang. Ia segera bercermin. Namun ketika melihat
bayangannya di cermin, Sang ratu menjerit kaget. Ia lalu menatap si pemuda
dengan murka.
”
Hai, anak muda. Apa maksud ini semua? Mengapa wajah cantikku berubah menjadi
penuh dengan ulat di dalam cermin ini? Apa kau mau menghinaku, haa?” kata ratu
marah.
Si
pemuda menyembah dan menjawab dengan ketakutan.
”
Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak pernah sekalipun mencoba menipu apalagi
menghina Paduka. Bukankah hamba sudah menjelaskan bahwa cermin itu akan
menunjukkan wajah asli seseorang yang bercermin padanya, “
”
Jadi maksudmu itu adalah wajahku yang sebenarnya ?” Tanya ratu lagi.
”
Maaf, Yang Mulia. Menurut hamba, itu mungkin adalah peringatan bagi Paduka,
bahwa Paduka jangan hanya menyibukkan diri dengan memandangi wajah cantik
Paduka lewat cermin. Tanpa bercermin pun, wajah Paduka sudah sangat cantik.
Sebaiknya Paduka lebih mementingkan nasib rakyat Paduka. Karena masih banyak
rakyat yang memmbutuhkan perhatian dari Paduka. Maaf, Paduka. Bukan maksud
hamba untuk menggurui Paduka. Namun hamba hanya mencoba mengartikan maksud dari
cermin tersebut. Jadi mohon Paduka mengampuni hamba,” kata pemuda itu sambil
menyembah.
Ratu
tertegun mendengar ucapan pamuda itu. Ia sadar bahwa selama ini ia memang
terlalu sibuk bercermin hingga urusan rakyat terabaikan.
”
Terima kasih, anak muda. Kamu benar. Selama ini aku memang terlalu sibuk
bercermin. Mulai sekarang, aku berjanji akan lebih mementingkan rakyatku. Dan
satu hal lagi. Bolehkah aku membeli cerminmu ?”
Pemuda
itu terkejut.
”
Untuk apa, Yang Mulia?” Tanyanya heran.
”
Sebagai peringatan supaya aku tidak melalaikan tugasku dalam menyejahterakan rakyatku.
Bukankah memang itu tugas seorang pemimpin?” Jawab ratu.
”
Jika memang demikian, dengan senang hati hamba akan mempersembahkan cermin ini
untuk Paduka,” kata si pemuda.
Sejak
saat itu, ratu tak lagi sibuk dengan cerminnya. Bahkan, kini kamarnya tak lagi
dipenuhi oleh ribuan cermin. Hanya ada satu cermin yang ada di dinding
kamarnya, yaitu cermin ajaib pemberian si pemuda. Bahkan seluruh cerminnya ia
bagikan pada rakyat yang membutuhkannya. Dan negeri itu pun semakin makmur dan
tenteram berkat cermin ajaib yang selalu mengingatkan Sang ratu apabila ia
lalai dalam tugasnya.
4. Puisi
-
Yang mendasari penyajian puisi
Alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada
perkuliahan ilmu budaya dasar adalah hubungan puisi dengan pengalaman hidup
manusia, perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut
“pengalaman perwakilan”. Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki
salah satu kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari
sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas.
Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat
memberikan kepada para mahasiswa memiliki kesadan (insight-wawasan) yang
penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan
tentang masyarakat. Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat
dilakukan dengan suatu kemampuan yang disebut pengalaman yang dituangkan
penyair dalam puisinya.
-
Contoh Puisi
Apa Adanya
Aku yang hanya segumpal daging
Bernafas, yang tak memerlukan hal apapun selain kedamaian
Aku yang tak memerlukan belas kasihan
Aku yang tak ingin meminta apapun
Aku hanya ingin memberi apa yang snaggup aku beri
Aku hanya ingin membagi kebahagianku tidak untukku sendiri
Aku yang tak butuh ada apanya
Tapi, aku hanya ingin apa adanya
Dan, ini aku yang apa adanya
Sumber Materi, E book Gunadarma
No comments:
Post a Comment